



Nunukan Produksi Beras Terenak di Dunia
Kesulitan Pasar, Harga di Brunei Capai Rp20 Ribu per Kilogram
SAMARINDA - Kabupaten Nunukan, tepatnya di Krayan, ternyata menghasilkan beras yang disebut-sebut paling enak di dunia. Beras tersebut merupakan hasil produksi padi lokal Nunukan, yang selama ini dikembangkan di areal dengan luas sekitar 3.000 hektare.
"Jenis padi lokal ini memiliki rasa yang belum ada tandingannya. Ini bisa ditanyakan kepada masyarakat yang pernah mengonsumsinya," tandas Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kaltim, Purwanto didampingi Kepala Dinas Pertanian Nunukan, H Suwono Thalib.
Sayangnya, kata Purwanto, petani selama ini masih kesulitan memasarkan hasil produksi mereka. "Pemasaran selama ini hanya sampai wilayah Malaysia. Kemudian setelah sampai ke tangan pengusaha Malaysia, beras lokal Nunukan diganti cap atau mereknya dengan produk Malaysia untuk dipasarkan kembali," sebutnya.
Beras produksi Krayan ini belum memungkinkan dipasarkan ke daerah lain karena terkendala transportasi. "Untuk biaya angkut saja, per kilogramnya bisa mencapai Rp15 ribu. Jadi tidak mungkin bisa dipasarkan di dalam negeri," katanya.
Disingung jumlah produksi dan pasar, Purwanto mengatakan dari lahan seluas 3.000 hektare tersebut bisa menghasilkan 6.000 ton setiap panen (6-7 bulan) atau sekitar 12.000 ton per tahunnya. Dari jumlah itu, yang bisa dipasarkan hanya sekitar 1.500 ton untuk sekali masa panen. Sisanya digunakan untuk kebutuhan pribadi dan 10 persennya diberikan kepada gereja setempat. "Jadi hanya 30 persen yang bisa dipasarkan," tuturnya.
Menurutnya, di Nunukan beras tersebut dijual dengan harga Rp6 ribu per kilogram. Kemudian setelah sampai di Brunei Darussalam jenis beras itu dijual dengan harga Rp20 ribu per kilogram. "Untuk mendongkrak harga beras memang harus dilakukan sertifikasi padi. Inilah nanti yang akan kita lakukan. Sebab dalam pemasarannya, masyarakat selama ini hanya berdasarkan kesepakatan," tambah Purwanto.
Untuk membantu petani, Pemprov Kaltim juga telah membantu Dinas Pertanian Nunukan berupa pengadaan penggiling padi senilai Rp75 juta, yang dibeli tahun 2005. "Ini untuk memudahkan petani menggiling padinya setelah panen. Kemampuan mesin penggilingan tersebut 3 sampai 5 ton per jam. Berarti sanggup menggiling hasil panen untuk areal seluas 200 hektare. Kalau penggilingan biasa kan hanya 50 hektare," tandasnya.
Lantas apa yang membuat padi lokal Nunukan memiliki rasa enak? Suwono menjelaskan, kondisi tersebut sangat dipengaruhi topografi. "Posisi Nunukan berada di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (dpl), sedangkan ph tanah mencapai 7 dan berada di daerah penggunungan yang memiliki kandungan garam," tuturnya. (gs)
(Submitted by News Aggregator on Wed, 08/03/2006 - 09:49)

0 komentar:
Poskan Komentar