........Selamat Hari Jadi Kab. Nunukan ke 13 tgl 12 Oktober 2012.......

Rabu, 08 Juni 2011

SISTEM KEMITRAAN PETANI SINGKONG DAN KOPERASI UNTUK MENSEJAHTERAKAN PETANI

<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE SISTEM KEMITRAAN PETANI SINGKONG DAN KOPERASI

UNTUK MENSEJAHTERAKAN PETANI

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto


Pada tahun 2008 yang lalu saya pernah menulis tentang keberadaan suatu Kelompok Tani yang berada di Pulau Nunukan, namanya Kelompok Tani Hijau Lestari. Waktu itu saya sangat akrab dengan kelompok ini karena saya sering mengunjungi mereka, dan beberapa pengurusnya juga sering bertemu di kantor maupun di rumah. Dari seringnya bertemu itulah suatu saat muncul cetusan ide tentang bagaimana memulai program untuk mensejahterakan petani di Nunukan ini akan diwujudkan.

Betapa tidak, di kelompok tani ini ada 25 orang anggotanya, lahan kering yang dimiliki oleh seluruh anggotanya sekitar 50 hektar dan lahan basahnya yang berupa sawah tadah hujan dan sebagian beririgasi setengah teknis ada sekitar 20 hektar. Namun demikian keadaan kesejahteraan mereka sangat sederhana. Mereka mengaku bahwa rata-rata pendapatan per bulannya hanya sekitar Rp 500.000 sampai Rp 700.000. Itu pun tidak mereka terima setiap bulannya. Memang demikianlah adanya, karena belum semua lahannya bisa tergarap. Lahan yang tergarap dengan tanaman semusim pun belum tentu berhasil. Inilah yang kemudian menjadikan mereka seperti tidak berdaya mengelola sumberdaya yang ada.

Bukannya mereka malas? Bukan, mereka tidak malas, karena saya tahu hampir tiada hari tanpa turun ke lahan mereka. Malah mereka merasa kekurangan waktu, karena selain harus ke ladangnya (lahan kering) mereka juga harus ke lahan sawahnya. Sebagian mereka juga mengurusi ternak berupa Sapi, kambing ataupun Unggas. Mereka termasuk sangat rajin, namun ternyata kerja keras mereka belum bisa merubah nasibnya, paling tidak sampai saat ini saat tulisan ini And abaca. Sekarang ini kita di pertengahan tahun 2011, awal bulan Juni. Berarti sudah sekitar 3 (tiga) tahun, dan keadaan kelompok tani tersebut belum ada perubahan yang signifikan.

Itu akan lain seandainya scenario pemikiran saya waktu itu bisa dilakukan. Lalu bagaimana rencana waktu itu?

Kelompok Tani Hijau Lestari ini diskenariokan bekerja sama dengan suatu Koperasi yang bergerak di bidang usaha Agribisnis Singkong secara terpadu. Dengan Agribisnis singkong yang terpadu akan dapat menciptakan kepastian hasil usaha dan pendapatan, bisa menyediakan alternative pakan bagi usaha peternakan Sapi, menyediakan sumber pupuk organic yang gratis dan keuntungan-keuntungan lainnya. Agribisnis SIngkong yang dilakukan secara terpadu dengan industry pengolahan tepung mocaf, peternakan Sapi dan industry kecil menengah Pupuk Organik, akan secara sinergis membuat petani lebih maju, mandiri dan sejahtera. Dan usaha yang terpadu yang melibatkan beberapa pihak akan berjalan lebih sinergis, saling menguntungkan dan dapat memaksimalkan seluruh sumber daya yang ada.

Usaha koperasi ini meliputi :

1. Pembelian Singkong segar dari petani

2. Pengolahan Ubikayu menjadi Tepung Mocaf

3. Peternakan Sapi dengan pakan utama dari limbah Singkong

4. Produksi Pupuk Organik dan Pestisida Nabati dari limbah ternak Sapi

5. Mengelola Biogas dari limbah ternak Sapi

6. Usaha simpan pinjam

7. Kios Saprodi dan Sembako

8. Dll.

Skema kemitraan dengan kelompok tani adalah sebagai berikut :

1. Semua petani yang menjadi anggota Kelompok Tani otomatis menjadi anggota koperasi.

2. Usaha koperasi ini berbasis pada lahan usaha kelompok tani yang berupa lahan kering, yaitu seluas 50 hektar dengan pola kerja sama bagi hasil atau sewa atau kontrak pembelian.

3. Para petani sepenuhnya akan menjadi karyawan koperasi untuk mengelola lahan mereka sendiri dengan manajemen koperasi.

4. Komoditi yang diusahakan adalah Singkong untuk produksi Tepung Mocaf.

5. Koperasi mengelola Pabrik Pengolahan Tepung Mocaf, Peternakan Sapi, Pabrik Pupuk Organik dan Pestisida Nabati, dengan memaksimalkan peran serta para petani sebagai karyawan dengan kapasitas yang disesuaikan kemampuannya.

6. Para petani sepakat melakukan kerjasama ini minimal selama 10 tahun.

7. Kerjasama ini diawasi oleh Pemerintah Daerah secara berjenjang dan dibina oleh instansi terkait yang membidanginya.

Lalu apa saja yang akan dihasilkan dari Sistem Kemitraan antara Koperasi dan Kelompok tani dengan lahan usaha seluas 50 hektar ? Kita harus menggunakan beberapa asumsi dulu, yaitu :

1. Produktifitas lahan SIngkong adalah 60-90 ton per hektar per musim (6-9 bulan), atau rata-rata 10 ton/ha/bulan.

2. Limbah kulit singkong rata-rata sebanyak 30 % dari berat ubi.

3. Jumlah pakan limbah untuk setiap ekor Sapi adalah 25 kg pakan/hari/ekor

4. Rendemen Tepung Mocaf dari ubi Singkong rata-rata 25 %.

5. Rasio luas lahan singkong dan jumlah Sapi yang bisa dipelihara dengan pakan dari limbah lahan Singkong adalah 1 hektar dibanding dengan 4 ekor Sapi, atau 4 ekor Sapi/ha.

6. Jumlah limbah padat kering 5 kg/ekor Sapi, dan limbah cair urine Sapi sekitar 5 liter/ekor/hari.

7. Harga pupuk organic padat kering Rp 1.000/kg, harga pupuk organic cair dari urine Sapi Rp 2.000/liter.

8. Penambahan berat badan Sapi sekitar 0,8 kg/ekor/hari

9. Harga berat hidup sapi sekitar Rp 25.000/kg berat hidup

10. Harga ubi Singkong tingkat kebun Rp 300/kg

11. Harga Tepung Mocaf tingkat pabrik Rp 3.500/kg

Produk dari Sistem Agribisnis Singkong Terpadu seluas 50 ha lahan Singkong, 200 ekor Sapi dengan Pabrik Tepung Mocaf kapasitas menyesuaikan, dll. ini adalah :

1. Setelah mulai panen Singkong maka kapasitas produksi ubi rata-rata adalah sekitar 500 ton/bulan, atau 16.666 kg/hari.

2. Nilai pendapatan petani dari ubi Singkong dengan harga tingkat kebun adalah sebesar Rp 150 juta/bulan atau Rp 5 juta/hari.

3. Produksi limbah kulit singkong segar 150 ton/bulan atau 5 ton/hari.

4. Jumlah Sapi yang bisa dikelola dengan pakan limbah singkong adalah 200 ekor, dengan total penambahan berat badan 160kg, dengan total nilai penambahan harga berat hidup Rp 4 juta/hari.

5. Produksi Tepung Mocaf sekitar 125 ton/bulan, atau 4.166 kg/hari

6. Nilai pendapatan Koperasi dari Tepung Mocaf dengan harga tingkat Pabrik adalah sebesar Rp 437,5 juta/bulan atau Rp 14,583 juta/hari.

7. Jumlah produksi pupuk organic padat sebesar 1.000 kg/hari, dengan nilai Rp 1 juta/hari.

8. Sedangkan pupuk organic cair sebesar 1.000 liter/hari senilai Rp 2 juta/hari.

9. Dll.

Tabel Nilai perolehan hasil dari Kemitraan Sistem Agribisnis Singkong-Mocaf-Sapi Terpadu skala 50 hektar antara petani dan koperasi

No.

Asal sub system kegiatan

Pihak

Petani

(Rp /hari)

Pihak

Petani

(Rp/bulan)

Pihak

Koperasi

(Rp /hari)

Pihak

Koperasi

(Rp /bulan)

1.

Panen Ubi Singkong

5 juta

150 juta

-

-

2.

Produksi Tepung Mocaf

-

-

14,583 juta

437,5 juta

3.

Nilai penambahan berat hidup Sapi

-

-

4,0 juta

120,0 juta

4.

Nilai pupuk organic padat

-

-

1,0 juta

30,0 juta

5.

Nilai pupuk organic cair

-

-

2,0 juta

60,0 juta








JUMLAH

5 juta

150 juta

21,583 juta

437,5 juta

Keterangan : Nilai perolehan tersebut belum dikurangi dengan biaya produksi, biaya operasional, dll.

Dari proyeksi perhitungan di atas terlihat proporsi perolehan petani lebih kecil dibandingkan perolehan koperasi. Sebaliknya nilai perolehan koperasi kelihatan besar. Hal tersebut terjadi karena hal-hal sebagai berikut :

1. Nilai perolehan tersebut masih kotor, belum dikurangi biaya-biaya seperti biaya produksi, biaya operasional, pembelian bahan baku, biaya tenaga kerja serta biaya penyusutan, dll. Pihak Petani memperoleh Rp 150 juta/bulan/50 hektar lahan atau sebesar Rp 3 juta/bulan/hektar. Kalau rata-rata kepemilikan lahan 2 hektar/petani, maka rata-rata perolehan setiap petani adalah Rp 6 juta/bulan/2 hektar. Seandainya biaya-biaya yang dikeluarkan petani itu 1/3 bagian dari jumlah perolehan, maka perolehan bersih petani dari budidaya Singkong mereka adalah Rp 4 juta/bln/2 hektar atau Rp 2 juta/bln/ha.

2. Perolehan petani memang terutama adalah dari sisi budidaya singkong saja, namun tidak menutup kemungkinan bahwa petani juga bisa berpartisipasi pada kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh koperasi, baik sebagi karyawan atau sebagai mitra kerja, apakah itu di Pabrik Mocaf, di Peternakan Sapi atau di Unit Pengolahan Limbah, Pupuk & Pestisida Nabati serta Unit-unit lain yang dimiliki oleh Koperasi. Unit-unit lain yang dimaksud seperti : Unit Simpan Pinjam, Unit Toko Sembako dan Saprodi, Unit Bengkel, dll.

3. Kalau misalnya dari kegiatan-kegiatan di koperasi petani juga melibatkan diri, artinya petani masih mungkin untuk meningkatkan pendapatannya. Sebagai contoh bila petani diserahi untuk pemeliharaan Sapi dengan pola bagi hasil, tentu petani tersebut akan memperoleh tambahan penghasilan. Apalagi bila ada lagi kegiatan lain dari koperasi seperti pengangkutan hasil panen, pengupasan ubi singkong, operator mesin pabrik, dan lain-lain, tentu akan semakin menambah pendapatan hasil usahanya itu. Jadi tergantung kepada petani, jenis usaha dan kegiatan apa yang akan dimasukinya. Hal tersebut bisa terjadi karena para petani adalah juga anggota koperasi dan berhak untuk juga berpartisipasi dalam jenis-jenis usaha koperasi.

4. Sedangkan nilai perolehan koperasi tinggi karena masih berupa perolehan kotor dan belum dikurangi biaya-biaya, seperti :

a. Pembelian ubi Singkong dari petani

b. Biaya panen dan angkutan ubi dari kebun ke pabrik

c. Biaya prosesing mulai dari pengupasan, pencucian, perajangan, proses fermentasi, penirisan, proses pengeringan chip, penepungan sampai pengemasan, penggudangan sampai proses marketingnya.

d. Demikian juga pada kegiatan-kegiatan koperasi lainnya seperti pemeliharaan ternak Sapi yang menggunakan banyak tenaga kerja dan biaya operasional lainnya.

e. Dst.

Jika diasumsikan bahwa biaya-biaya itu secara keseluruhan unit itu mencapai 70-80 % dan nilai margin usaha itu 20-30%. Maka nilai perolehan bersih dari koperasi sekitar Rp 4,32 - 6,47 juta/hari atau sekitar Rp 129,5 juta sampai Rp 194,2 juta/bulan. Dari hasil ini maka koperasi akan semakin berkembang dan petani yang masuk di dalam system kemitraan tersebut akan turut maju dan berkembang serta lebih sejahtera.

Apakah hitungan-hitungan di atas ada yang masih dipertanyakan? Bagaimana menurut Anda?

Rabu, 01 Juni 2011

SINGKONG BISA LEBIH HEBAT DARI KELAPA SAWIT

UNTUK MENSEJAHTERAKAN RAKYAT : SINGKONG BISA LEBIH HEBAT DARI KELAPA SAWIT

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Penghasilan masyarakat dari Kebun Plasma Kelapa Sawit di Kecamatan Sebuku baru mencapai Rp 450.000 per bulan untuk kebun plasma seluas 2 (dua) hektar. Artinya jika dihitung per hektar penghasilan petani plasma hanya sebesar Rp 225.000 per bulan. Sungguh angka yang sangat kecil bagi penduduk yang dulunya biasa menerima uang besar dari bisnis ilegal logging.

Apakah itu sudah adil ? Rasanya itu sangat tidak adil. Idealnya rata-rata produksi Tandan Buah Sawit (TBS) itu mencapai 24 ton per tahun dari setiap hektar kebun yang sudah menghasilkan, berarti rata-rata panen sebesar 2 ton TBS per bulan. Jika harga TBS Rp 1.200 per kg, maka akan diperoleh hasil pembayaran dari pabrik sebesar Rp 2.400.000 per bulan dari setiap hektar lahan. Atau Rp 4.800.000 per bulan untuk 2 hektar kebun Kelapa Sawit. Kenyataannya perolehan petani plasma kita baru kurang dari 10 % dari kondisi ideal tersebut.

Namun angka tersebut masih jauh dari kenyataan, karena ternyata produktifitas kebun Kelapa Sawit di Nunukan ini baru mencapai sekitar 50% target produktifitas ideal yaitu baru mencapai sekitar 12 ton TBS per hektar per tahun. Angka tersebut pun penulis peroleh dari angka produktifitas laporan dari salah satu perusahaan inti yang ada di Kabupaten Nunukan. Maka bisa jadi produktifitas kebun plasma masyarakat bisa kurang dari 12 ton TBS per tahun per hektar.

Dari sisi harga TBS pembelian Pabrik Kelapa Sawit juga masih rendah. Rata-rata harga pembelian di tingkat pabrik baru sekitar Rp 900 per kg TBS, sedangkan harga di tingkat kebun setelah dipanen berkisar antara Rp 400 – 600 per kg TBS tergantung jaraknya kebun dari pabrik. Hal tersebut masih belum terhitung ongkos buruh untuk panen dan pengumpulan TBS ke pinggir jalan. Maka bisa jadi yang diperoleh petani hanya sekitar Rp 300 – 500 per kg TBS.

Ini adalah kenyataan yang sungguh pahit di tengah gencarnya semangat menanam kebun dengan komoditi Kelapa Sawit. Sebab dengan penerimaan yang sangat minim tersebut, petani tentu tidak sanggup untuk melakukan pemeliharaan yang baik dan standar. Apalagi harga pupuk juga masih sangat mahal dan ketersediaannya juga belum terjamin. Sarana dan prasarana transportasi juga masih sangat minim, sehingga ongkos angkut pupuk dan barang dirasa masih sangat mahal. Kondisi seperti ini dialami hampir semua petani Kelapa Sawit di Kabupaten Nunukan.

Petani seolah-olah tidak berdaya menghadapi kenyataan ini, mereka hanya pasrah menerima keadaan yang tidak adil ini. Selama ini Pemerintah Kabupaten Nunukan juga sangat tidak peka dan seolah tidak paham dengan kenyataan yang sangat pahit tersebut. Oleh karena itu harusnya Pemerintah jangan berbangga dulu dengan banyaknya lahan yang dibuka untuk kebun Kelapa Sawit. Jangan juga berbangga kalau di daerahnya banyak Pabrik pengolah CPO, sehingga bisa meningkatkan PAD setiap tahunnya. Janganlah bangga dulu sebelum masalah-masalah petani bisa diatasi dan pendapatan dari Kelapa Sawit cukup mensejahterakan.

Padahal para petani kita ini sudah cukup bersabar menunggu selama sekitar 5 (lima) tahun untuk memperoleh hasil yang ternyata tidak sepantasnya tersebut. Namun cukuplah untuk juga disyukuri sebab bisa membantu untuk biaya anak-anak sekolah di kampung atau tambahan beli beras dan keperluan harian lainnya. Masyarakat plasma Kelapa Sawit termasuk sangat sabar, karena selama ini mereka merasa tidak mengeluarkan biaya-biaya untuk pembangunan kebun sawitnya, itu saja.

Kalau tahu hanya seperti itu, kenapa kita tidak memilih komoditi lain seperti Singkong. Benarkah Singkong bisa lebih menguntungkan bagi masyarakat dari pada Kelapa Sawit? Atau adakah komoditi lainnya yang bisa lebih mensejahterakan dari pada Kelapa Sawit? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sungguh sangat langka kita dengarkan dari para petani plasma Kelapa Sawit ini. Kenapa? Ya, karena selama ini gembar-gembor dari para Pemimpinnya sangat meyakinkan.

Lalu apakah betul Singkong bisa lebih hebat dari Kelapa Sawit? Bagaimana perhitungannya sehingga bisa dikatakan seperti itu?

Singkong itu tanaman semusim yang umur panennya berkisar antara 6 bulan sampai dengan 10 bulan, artinya tidak perlu terlalu lama untuk menunggu hasilnya. Selain itu Singkong sudah sangat familier atau tidak asing bagi semua petani di Kabupaten Nunukan, baik dalam hal cara budidayanya maupun cara mengelola paska panennya. Bahkan sebagian besar masyarakat di daerah pedalaman mengkonsumsi Singkong sebagai makanan pokoknya. Jadi secara budaya dan adat istiadat sungguh tidak asing lagi bagi mereka.

Jika Pemerintah bisa menarik pihak Swasta untuk berinvestasi mendirikan pabrik pengolahan Singkong menjadi produk-produk hilir yang lebih bernilai, sama seperti adanya Investor Pabrik Kelapa Sawit (PKS), maka saya yakin masyarakat akan jauh lebih antusias. Sebab inilah prasyarat pertama dan utama jika kita ingin mengembangkan Singkong, yaitu adanya pabrik yang akan membeli seluruh hasil produksi dari para petani. Sebenarnya seperti itu juga yang dilakukan Pemerintah untuk mengembangkan Kelapa Sawit, maka untuk mengembangkan Singkong pun prasyarat utama juga harus dilakukan.

Oke lah, kalau misalnya prasyarat itu sudah ada, artinya Pemerintah atau siapa saja bisa menarik investor untuk mendirikan Pabrik yang menampung dan mengolah Singkong, sehingga seluruh hasil produksi Singkong para petani bisa dibeli dengan harga yang wajar. Lalu bagaimana bisa dikatakan hasil pendapatan petani bisa lebih hebat? Terus, betulkah Singkong bisa membuat masyarakat lebih sejahtera?

Petani selama ini menganggap bahwa Singkong bukan sebagai komoditi ekonomi, karena Singkong belum punya pasar yang besar. Petani hanya menanamnya dalam skala lahan yang sempit dan sekedar bisa mencukupi kebutuhan untuk keluarganya saja. Belum ada yang bisa membeli dalam jumlah yang banyak dan kontinyu. Keadaan inilah yang akan berubah jika nanti ada Pabrik yang bisa membeli dalam jumlah besar dan secara kontinyu, sama seperti PKS untuk hasil panen Kelapa Sawit petani.

Mari, sekarang kita menghitung proyeksi pendapatan petani singkong dengan skala usaha Singkong untuk luas lahan 1 (satu) hektar. Petani biasa menanam Singkong dengan jarak tanam yang sangat rapat, yaitu dengan jarak 50 cm x 50 cm, ada juga yang sekitar 60 cm x 60 cm, 80 cm x 80 cm, atau sampai jarak tanam sekitar 1 meter x 1 meter. Kalau dihitung populasi pohon per hektar bisa mencapai antara 10.000 pohon, 15.000 pohon, 30.000 pohon atau sampai 40,000 pohon. Atau anggaplah rata-rata yang ditanam petani itu 20,000 pohon dalam setiap hektar.

Jika rata-rata hasil produksi setiap pohon rata-rata mencapai 3 kg saja maka hasil panen per hektar lahan akan mencapai 60 ton ubi. Padahal para petani kita tidak terlalu sulit untuk bisa mencapai produksi per pohonnya rata-rata seberat 5 kg. Hanya dengan sedikit pemeliharaan dan pupuk yang cukup angka 5 kg itu bisa diperoleh. Artinya dalam se hektar petani akan memperoleh hasil sekitar 100 ton dalam setiap musimnya yang selama antara 6 bulan sampai 10 bulan. Atau bisa dikatakan bahwa para petani tidak terlalu sulit untuk bisa memanen Singkong sebanyak 10 ton per bulannya dari setiap hektar lahan.

Seandainya pihak Pabrik yang ada nanti bisa menerima dengan harga di tingkat kebun hanya seharga Rp 300 per kg saja, maka petani yang menanam 1 hektar Singkong tadi akan menerima hasil kebun Rp 3 juta per bulan. Kalau punya kebun 2 hektar makan akan menerima hasil Rp 6 juta per bulan. Apa lagi kalau harga seperti di Jawa atau Sumatera yang bisa mencapai Rp 600 di tingkat Pabrik, maka petani bisa memperoleh Rp 6 juta per bulan per hektar. Nah, kalau mereka rata-rata punya 2 hektar lahan Singkong, maka mereka bisa memperoleh hasil pendapatan sampai Rp 12 juta per bulan. Ini sungguh hasil yang sangat besar jika dibandingkan hasil dari Kelapa Sawit.

Apakah hal ini sulit dilakukan? Saya rasa, kalau membangun Pabrik Kelapa Sawit saja kita bisa, tentu juga demikianlah kita pasti bisa membangun Pabrik Pengolahan Singkong di Kabupaten Nunukan ini.

Kira-kira apa lagi yang kita ragukan dengan hitungan di atas? Bagaimana menurut Anda?

Senin, 09 Mei 2011

Tetap mengaduk adonan gula meski harga anjlok

Tetap mengaduk adonan gula merah tebu di Kediri meski harga anjlok
Foto Sebelumnya
foto  harga gula anjlok

HARGA GULA ANJLOK

Seorang pekerja mengaduk adonan gula yang baru saja diangkat dari tungku masak di sebuah industri rumahan gula merah di Slumbung, Kediri, Jawa Timur, Selasa (20/4). Harga gula merah anjlok dari Rp 7.600 menjadi Rp 6.300 per kg sepekan terakhir. Anjloknya harga gula karena kualitas bahan baku tebu berkadar air tinggi sehinga kualitas gula yang dihasilkan bermutu rendah.

(FOTO ANTARA/Arief Priyono/ed/ama/10) KEDIRI, 21/4 -

Sumber : http://www.antarafoto.com/bisnis/v1271856310/harga-gula-anjlok


Selasa, 15 Maret 2011

Peluang Pasar Tepung Mocaf 600 ribu ton per tahun dari Indofood

Peluang Pasar Tepung Mocaf 600 ribu ton per tahun dari Indofood

Oleh : Ir. Dian Kusumanto


Awal bulan Maret 2011 kemarin saya mengikuti pertemuan tentang Ketahanan Pangan di Hotel Le Dian Serang Banten. Diantara pembicara yang tampil adalah Bapak Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian, yaitu Bapak Prof. Dr. Ir. Achmad Suryana MS. Yang sangat menarik dari pembicaraan beliau adalah informasi bahwa sebenarnya PT. Indofood, produsen Indomie, sudah lama menggunakan tepung Mocaf untuk produksi Indomienya, namun karena pertimbangan persepsi masyarakat konsumen, maka waktu itu belum dibuka. Kinilah saatnya membuka informasi itu, bahwa sebenarnya Indomie yang kita konsumsi itu sebagian tepung bahannya adalah tepung Mocaf.

Tepung Mocaf produksi Koperasi Loh Jinawi Trenggalek Jawa Timur


Hal ini jelas karena trend kenaikan harga pangan di luar negeri, khususnya Gandum, terus terjadi. Gandum adalah bahan dasar tepung terigu. Di dunia ini ada trend yang hamper sama, yaitu lahan-lahan pertanian pangan tergusur alias terkonversi menjadi lahan non pangan bahkan non pertanian. Setiap Negara sekarang terus mengalami kenaikan kebutuhan bahan pangan sedangkan ketersediaannya bukan semakin meningkat, sehingga langkah yang diambil rata-rata Negara di dunia ini adalah semakin membatasi ekspor bahan pangannya. Hal inilah yang menyebabkan trend kenaikan terus menerus harga pangan dunia.

Suasana Industri Kecil Tepung Mocaf di Jawa Timur


Kenaikan harga terigu akhirnya member harapan baru kepada komoditi penggantinya atau komoditi substitusinya seperti tepung mocaf dan tepung-tepung bahan ubi-ubian lainnya. Maka muncullah upaya-upaya kreatif untuk mengatasi trend yang kalau tidak diatasi akan mematikan usaha bidang pangan dengan bahan dasar tepun g terigu. Industri pangan berbahan tepung terigu ini sangat luas, mulai dari aneka jenis roti, aneka jenis mie, aneka kue-kue basah dan kering, dll. Industri-industri ini menggunakan tepung terigu dengan berbagai komposisi.

Proses perendaman irisan singkong agar terjadi proses fermentasi yang menggunakan BAL (bakteri asam laktat)

Kehadiran tepung Mocaf sebagai alternative substitusi tepung terigu memberi harapan baru bagi para pelaku industry pangan berbahan tepung terigu. Berbagai percobaan akhirnya dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa banyak peran substitusi tepung mocaf ini dalam pembuatan aneka pangan yang semula berbahan tepung terigu. Tentu saja belum semua peran tepung terigu bisa digantikan sepenuhnya. Dari beberapa hasil ujicoba penggantian tepung terigu dengan tepung mocaf dapat disampaikan daftar prosentasi substitusinya pada aneka produk pangan berikut.

Angka besaran import tepung terigu Indonesia sudah mencapai angka 6 juta ton tiap tahun. Oleh karena itulah maka sudah waktunya kita menghargai produk kita sendiri, yaitu dengan jalan mensubstitusinya atau menggantinya dengan tepung mocaf. Kepala Badan juga menginformasikan bahwa PT. Indofood memberi sinyal untuk menerima tepung mocaf dari para industry tepung mocaf sebesar 50.000 ton per bulan, atau sebesar 600.000 ton dalam setahun, atau 10 % dari volume import tepung terigu.

Untuk memproduksi 600.000 ton tepung mocaf per tahun, berarti diperlukan bahan baku ubikayu segar sebanyak 2,4 juta ton per tahun yang dipanen dari kebun singkong dengan luas sekitar 60.000 hektar . Hitungan tadi menggunakan asumsi rendemen ubi menjadi tepung 25 % dengan produktifitas lahan 40 ton/ha. Namun kalau kita menggunakan angka asumsi yang lebih optimis, misalnya rendemen 30% sedang produktifitas mencapai 60 ton/ha/12 bulan, berarti hanya perlu lahan sekitar 30.000 hektar, atau separuh dari asumsi yang pertama tadi.

Bibit stek ubikayu Adira yang siap angkut ke lahan petani di Nunukan Kalimantan Timur


Ayo ambil peluang ini segera! Mari berlomba-lomba untuk mencapainya!

Bagaimana menurut Anda??

Senin, 14 Maret 2011

Manfaat Makanan Fermentasi Bagi Tubuh

Manfaat Makanan Fermentasi Bagi Tubuh


Makanan fermentasi cukup akrab di tengah-tengah masyarakat. Produk olahan makanan menggunakan ragi ini cukup diminati karena selain harganya yang terjangkau, rasanya juga enak dan sesuai dengan lidah kita.

Proses fermentasi menjadi bagian terpenting dalam pengolahan makanan ini. Ragi dalam proses fermentasi berfungsi sebagai zat pengikat gizi makanan agar tidak rusak akibat adanya bakteri yang hidup di dalamnya.

Agar tidak ada bakteri jahat yang hidup dalam makanan, proses fermentasi ini memungkinkan makanan diproses tanpa adanya oksigen, istilahnya anaerobic respiration. Sebagai hasil fermentasi pada makanan dapat diperoleh senyawa kimia seperti asam laktat yang berfungsi dalam proses biokimia dalam tubuh manusia, aseton sebagai zat pelarut, hidrogen dan etanol yang dapat melarutkan senyawa kimia lain seperti pewarna makanan.

Dilihat dari segi kesehatan, makanan fermentasi yang memakai sel mikroba hidup dapat menjadi sangat menguntungkan. Di antaranya mempertahankan gizi makanan, menambah asupan gizi makanan, menstimulasi peningkatan kekebalan tubuh, sebagi anti tumor dan anti mutagenic, dan membantu penyerapan mineral makanan.

Selain itu, juga dapat mempersingkat durasi diare bila suatu saat terjadi, dan mengurangi kemungkinan terjadinya maldigesti laktosa atau salah penerapan proses pencernaan laktosa saat dipecah menjadi galaktosa dan glukosa ketika masuk ke dalam usus.

Mengkonsumsi produk-produk berfermentasi dapat dijadikan gaya hidup sehat sehari-hari. Fermentasi memiliki fungsi umum dan khusus dalam proses pengolahan produk yang dapat dikonsumsi sehari-hari oleh masyarakat.

Di antara fungsi-fungsi umumnya adalah untuk menyelamatkan makanan dari berbagai masalah makanan seperti pembusukan atau basi dan keracunan, memperpanjang masa penyimpanan makanan, meminimalkan kerugian produksi pangan terutama dalam kegiatan industri, dan menambah gizi makanan.

Sedangkan fungsi khusus proses ini adalah mengendalikan pertumbuhan mikroba, mempertahankan gizi yang dikehendaki, dan menciptakan kondisi yang tidak baik bagi kontaminasi mikroba yang merugikan.

Makanan dan Minuman Fermentasi

Beberapa jenis makanan dan minuman yang beredar di tengah masyarakat merupakan hasil proses fermentasi. Di antara makanan itu adalah:

  • Tempe

Makanan yang terbuat dari kacang kedelai dan fermentasi kacang rhizopus atau ragi tempe ini adalah makanan bernilai gizi tinggi. Tempe dapat mencegah radikal bebas, menghambat proses penuaan, pencegahan jantung koroner, diabetes, dan kanker. Selain itu, tempe juga mengandung zat antibakteri penyebab penyakit diare, mampu menurunkan kolesterol dalam darah, dan mencegah hipertensi.

Adanya ragi tempe membuat kadar protein, lemak dan karbohidratnya menjadi lebih mudah dicerna tubuh. Makanan itu juga merupakan favorit bagi mereka para vegan atau yang bergaya hidup sehat sebagai vegetarian karena kandungan kedelainya yang cukup mengenyangkan.

  • Yoghurt

Susu fermentasi ini memiliki aroma yang khas karena adanya proses fermentasi gula susu atau laktosa menjadi asam laktat. Proses ini menyebabkan protein susu menggumpal menjadi gel beraroma khas.

Yoghurt kaya akan protein, vitamin B, dan mineral. Lemak dalam yoghurt sejumlah dengan lemak pada susu yang difermentasikan. Susu sapi dan susu kedelai adalah produk susu yang bisa difermentasikan.

  • Kimchi

Asinan sayur dan lobak asam pedas khas Korea ini dibuat melalui proses fermentasi dengan menggunakan bakteri laktobasillus yang banyak digunakan dalam produk yoghurt, keju, bir, anggur, cuka dan cokelat. Sayuran kimchi seperti sawi putih dan lobak diberi garam kemudian dicuci. Selanjutnya diproses bersama kecap ikan, bawang putih, udang, bubuk cabai merah dan jahe.

  • Tapai

Makanan khas Indonesia ini dibuat dari hasil fermentasi singkong dengan ragi saccaromyches cerevisiae yang dibalurkan pada batang singkong yang telah dibersihkan.


Sumber : http://www.anneahira.com/makanan-fermentasi.htm


Rabu, 23 Februari 2011

Stok pangan dunia menipis, Indonesia masih aman

Stok pangan dunia menipis, Indonesia masih aman


JAKARTA, kabarbisnis.com:

Stok pangan di pasar internasional (dunia) akan semakin berkurang dan menipis karena negara-negara produsen telah mengambil langkah untuk tidak lagi mengekspor demi untuk mengamankan stok pangan di negaranya sendiri.

Hal ini akibat perubahan iklim, seperti bencana yang terjadi di Australia, India dan Banglades. Negara-negara itu mengalami penurunan produksi pangannya.

Kedepan, barang pangan yang diperdagangkan di pasar internasional semakin kecil sementara permintaan semakin tinggi. Hal ini akan mengakibatkan semakin tingginya harga pangan di pasar internasional.

Tetapi Indonesia di posisi yang tidak terlalu mengkawatirkan karena masih punya lahan yang sangat luas dan berpotensi untuk meningkatkan produksi.

"Tentunya pemanfaatan lahan sangat diperlukan untuk menunjang dalam memperkuat kemandirian pangan," ungkap Menteri Pertanian Suswono di Jakarta, Jumat (28/1/2011).

Menurut dia, ada tiga hal untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia. Pertama, ketersediaan pangan, kedua, bisa diakses, dan ketiga, distribusi merata kesemua daerah. Tiga hal inilah yang akan memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Mentan menambahkan, organisasi pangan dunia FAO sudah memberikan warning agar setiap negara diminta untuk menguatkan pangannya. Persoalan ketahanan pangan sudah menjadi isu sentral di setiap negara oleh sebab itu pada setiap pertemuan antar pemimpin dunia selalu membicarakan ketahanan pangan.

Dengan menurunnya produksi pangan di sejumlah negara produsen sehingga mereka mengambil kebijakan tidak mengekspor maka ke depan barang pangan dipasar dunia akan berkurang sementara permintaan semakin meningkat sehingga mengakibatkan menaiknya harga pangan dunia. Hal ini akan berakibat buruk bagi negara yang hasil pangannya dari impor.

Indonesia sendiri akan memanfaatkan lahan secara maksimal guna menunjang kemandirian pangan. Untuk itu ke depan pemerintah akan menambah lahan dengan membuka lahan baru seluas dua juta hektar dan akan meningkatkan produktivitas tanaman melalui pemberian benih unggul yang tahan bencana kekeringan, kebanjiran dan tahan hama. kbc9

Sumber : http://www.kabarbisnis.com/life-style/agribisnis/2817731-Stok_pangan_dunia_menipis__Indonesia_masih_aman.html

Jaga ketahanan pangan, BKP bikin Rumah Hijau

Jaga ketahanan pangan, BKP bikin Rumah Hijau


SURABAYA, kabarbisnis.com:

Upaya mencapai ketahanan pangan lewat program Rumah Hijau di Jatim terus digalakkan. Tahun ini Badan Ketahanan Pangan (BKP) menargetkan bisa membangun Rumah Hijau di 10 kabupaten.

Kepala Bidang Ketersediaan dan Cadangan Pangan Badan Ketahanan Pangan Jatim, Mustajab, mengatakan, di BKP program Rumah Hijau ini bernama program pemanfaatan pekarangan. “Prinsipnya program pemanfaatan pekarangan sama dengan Rumah Hijau, sehingga realisasinya akan lebih mudah, karena hanya tinggal melanjutkan saja,” tuturnya.

Dia menuturkan, dalam waktu dekat ini pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk realisasi program. Dengan koordinasi yang tepat, maka diharapkan tak ada overlapping antara BKP dan Distan. Untuk kerjasama awal, pihaknya akan berupaya menyinergikan sharing bantuan, seperti bibit tanaman yang akan ditanam. “Jika pertanian mau bantu bibit cabai, maka kami bisa membantu sayur,” katanya.

Guna memaksimalkan pelaksanaannya, kini BKP tengah mengupayakan proses identifikasi 10 kabupaten yang akan dibantu. Ini dilakukan karena tak semua wilayah di 10 daerah itu memiliki potensi tingkat kesuburan lahan tanam. Dengan adanya jenis lahan pekarangan rumah yang berbeda, maka diharapkan bisa mengoptimalkan hasil rumah hijau yang akan dimulai Maret mendatang.

Tahun ini, Pemprov Jatim menargetkan pembangunan Rumah Hijau hingga 80 ribu unit. Rumah hijau diharapkan bisa menjadi alternatif jika sewaktu-waktu harga cabai naik hingga tak terjangkau masyarakat. Selain untu menanam cabai, rumah hijau juga bisa untuk menanam sayur-sayuran agar saat panen bisa dikonsumsi langsung, tanpa perlu lagi beli di pasar.Rumah Hijau adalah wujud konkret untuk antisipasi atas t

Menganai sistem pelaksanaan pembuatannya, Pemprov Jatim akan mengucurkan dana bantuan untuk membangunan rumah hijau pada desa yang dipilih. Setiap desa berhak atas dana kucuran sebesar Rp 1 juta. Setiap kabupaten akan diberi bantuan Rp 10 juta untuk diteruskan pada 10 desa di wilayah kerjanya. Dengan jumlah desa yang akan mendapatkan dana bantuan itu, maka Pemprov akan menyiapkan dana bantuan sekitar Rp 56 miliar. Jika program rumah hijau itu bisa direalisasi dan berhasil, diyakini mampu mengatasi persoalan mahalnya harga cabai akan dapat ditanggulangi mulai empat bulan mendatang secara swadaya. Masyarakat juga tak perlu lagi bergantung cabai dari pasar, cukup dengan ambil tanaman sendiri. kbc4

Sumber : http://www.kabarbisnis.com/life-style/agribisnis/2817884-Jaga_ketahanan_pangan__BKP_bikin_Rumah_Hijau.html


Konsep Rumah Hijau jaga ketahanan pangan


(dok. kabarbisnis.com)

SIDOARJO, kabarbisnis.com:

Konsep Rumah Hijau dengan menyuguhkan pekarangan rumah yang asri akan dipamerkan kepada Presiden RI pada kunjungannya ke Jatim pada Jumat (14/1/2011). Rumah Hijau ini terdapat di Desa Lebo, Kecamatan Sidoarjo, Kabupaten Sidoarjo. Diharapkan, konsep rumah hijau dapat mengatasi kesulitan pangan yang diakibatkan klimatologi.

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Jawa Timur, Nina Soekarwo, mengatakan, TP PKK gencar menyosialisasikan pemanfaatan pekarangan rumah menjadi lahan yang dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan sehari-hari. Ini didasari pada melambungnya sejumlah bahan kebutuhan pangan seperti cabe yang sulit dijangkau oleh masyarakat yang tergolong masyarakat kurang mampu.

“Pada kunjungan Presiden RI, kami akan menunjukkan rumah hijau sebagai salah satu solusi klimatologi yang berimbas pada menurunnya beberapa produksi pangan,” jelasnya.

Nina menambahkan, TPP PKK dalam sosialisasinya mengajari cara pemanfaatan lahan yang ada di pekarangan rumah dengan menanam sejumlah kebutuhan dapur atau pangan seperti cabe, tomat, ketela rambat, terong, dan lainnya. Dengan begitu, mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan tanpa harus membeli di luar dan tidak terkena imbas klimatologi.

“Konsep rumah hijau ini merupakan salah satu revitalisasi PKK pada periode 2009-2014. Selain itu, melihat tingginya beberapa kebutuhan pokoknya yang naik secara signifikan, rumah hijau menjadi salah satu solusi yang tepat,” ujarnya.

Nina menjelaskan, selain rumah hijau, TP PKK juga secara aktif melakukan pengoptimalan pencapaian 10 program pokok PKK yakni gotong royong, penghayatan dan pengamalan Pancasila, pangan, sandang, tata laksana rumah tangga, pendidikan dan ketrampilan, kesehatan, pengembangan kehidupan berkoperasi, kelestarian lingkungan hidup, dan perencanaan sehat.

“Tujuan kami yakni memberdayakan keluarga dalam meningkatkan kesejahteraannya secara lahir dan batin. Untuk itu, melalui 10 program pokok PKK, kami yakin hal itu dapat terwujud secara bertahap,” jelasnya. kbc4

Sumber : http://www.kabarbisnis.com/life-style/agribisnis/2817389-Konsep_Rumah_Hijau_jaga_ketahanan_pangan.html

Selasa, 22 Februari 2011

LEPO PADE - Gudang BULOGnya Masyarakat Lundayeh Krayan - Kaltim

Oleh : H. Heru Wihartopo (Koordinator Penyuluh Kabupaten Nunukan)


Membangun Ketahanan Pangan memang amat penting, apalagi bagi masyarakat Lundayeh Krayan - Nunukan, usaha pengamanan bahan pangan menjadi kegiatan prioritas utama. Karena itu mereka telah lama punya kiat mengatasinya yaitu setiap rumah tangga wajib punya gudang penyimpanan padi yang biasa disebut "LEPO PADE" atau "Lumbung Padi" sebagai "Gudang Bulog Swadaya" yang mampu memberi jaminan kelangsungan hidup sehat, aman dan tentram bagi masing-masing keluarganya.

Bagi masyarakat Lundayeh Krayan sejak dahulu kala pangan dan upaya-upaya tentang bagaimana bisa aman terhadap tuntutan ketersediaan pangan adalah masalah besar dan mendasar, oleh sebab itu jangan heran jika di masing-masing rumah tangga punya "Gudang Bulog" dalam bentuk ”Lepo Pade”.

Sebab tanpa peduli dengan ketersediaan pangan yang cukup selama minimal setahun, berarti selama itu juga ketenangan pikiran dan ketenangan keluarga akan terusik selama setahun, bahkan kegiatan perekonomian atau kegiatan sosial lainnya bisa kocar-kacir. Bayangkan jika sampai kehabisan stok padi atau beras, sementara letak geografis Krayan yang "hanya bisa ditempuh dengan pesawat terbang” dan memakan waktu satu jam penerbangan dari Tarakan atau Nunukan.

Maka apa yang terjadi jika kehabisan stok padi/berasnya, tentu sangat besar resikonya. Nah sampai sejauh itulah masyarakat pedalaman Krayan Nunukan Kalimantan Timur yang letaknya "nun jauh di perbatasan sana" telah dituntut untuk berfikir dan bertindak lebih cermat dan siap dalam mengantisipasi keadaan ketahanan pangannya.

Masyarakat Krayan dan Ketahanan Pangan
Terkait dengan upaya membangun ketahanan pangan maka memiliki "Lepo Pade" atau Lumbung Padi sangat penting bagi masing-masing keluarga pada masyarakat Krayan. Sebagai upaya untuk menyimpan stok padi dalam jangka waktu minimal satu tahun dengan jaminan gabah atau padi yang disimpannya diharapkan mampu bertahan baik kualitas maupun kuantitasnya.

Pada masa lampau upaya memiliki "Lepo Pade" bagi masyarakat Krayan merupakan salah satu persyaratan yang ditetapkan sebagai salah satu syarat ukuran status sosial, semakin besar dan banyak isi "Lepo Padenya" maka semakin tinggi status sosialnya. Bahkan menjadi calon menantu harus siap membangunkan sebuah "Lepo Pade" selain harus menyediakan puluhan ekor kerbau sebagai jujuran atau "maharnya" untuk persiapan rumah tangga anak dan calon menantunya

Sumber : http://www.sinartani.com/pangan/lepo-pade-gudang-bulognya-masyarakat-lundayeh-krayan-kaltim-1296460642.htm